Persepsi Murid dan
Konselor Sekolah terhadap Keuntungan Pelayanan-Pelayanan Bimbingan dan
Konseling Sekolah di Menengah di Zimbabwe
Regis Chireshe
College of Education, Department of Further
Teacher Education, University of South Africa,
P.O.Box 392, Unisa 0003, South Africa
Abstrak: lokakarya
ini bertujuan untuk memperlihatkan keuntungan dari pelayanan Bimbingan dan
Konseling di sekolah menengah (SMP dan SMA) di Zimbabwe, yang dirasakan oleh
para murid dan konselor sekolah. Penelitian ini merupakan suatu bagian dari
penelitian yang lebih besar tentang penilaian keefektifan pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah di Sekolah Menengah di Zimbabwe. Model
pengukuran digunakan dalam penelitian ini. Subyeknya terdiri dari 950 peserta
dimana 314 (165 laki-laki dan 149 perempuan) adalah konselor sekolah, sementara
636 (314 anak laki-laki dan 322 anak perempuan) adalah murid. Data dikumpulkan
dengan cara membagi kuisioner. Paket data statistik SAS/SAT versi 9.1 digunakan
untuk menganalisa data yang telah didapat. Analisis dalam penelitian ini
meliputi tabulasi dan perhitungan dengan menggunakan tes Chi-Square, frekuensi, dan rasio. Penelitian ini menemukan bahwa para
konselor sekolah dan murid mempercayai pelayanan bimbingan dan konseling
berdampak pada manfaat hubungan personal-sosial, karir, dan kejuruan. Secara
keseluruhan, baik para konselor sekolah dan murid menilai bimbingan dan
konseling sekolah baik.
Kata Pengantar
Bimbingan dan Konseling adalah sebuah bidang profesional
yang memiliki jajaran aktivitas dan pelayanan yang luas, yang bertujuan untuk
membantu para individu untuk mengerti diri mereka sendiri, masalah mereka,
lingkungan sekolah mereka, dan dunia mereka ((Egbochuku 2008;Oniye and Alawane
2008; Eyo et al. 2010; Lunenburg 2010). Hubungannya dengan yang diatas, Idowu
(1990) melihat bimbingan dan konseling sebagai sebuah proses dari campur tangan
yang sudah direncanakan dalam suatu sistem sekolah, dimana perkembangan
keseluruhan murid didorong dalam area yang berhubungan dengan perhatian
personal, sosial, karir, emosional, dan akademis mereka.
Oleh karena itu, program-program
bimbingan dan konseling telah diperkenalkan untuk membantu para murid untuk
mengatasi sejumlah tantangan yang hadapi baik di rumah maupun sekolah. Nziramasanga
(1999) menyatakan bahwa karena banyak tekanan yang membebani keluarga, maka
orang tua seharusnya cenderung memberikan sedikit waktu untuk bersama anak-anak
mereka untuk memberikan bimbingan yang dibutuhkan. Para orang tua berharap
sekolah menyediakan jalan keluar dalam ketidakdisiplinan di Sekolah Menengah
yang dilakukan oleh anak-anak mereka. UNESCO (2002:2) menambahkan,
“Remaja-remaja Afrika telah menjadi lebih perduli untuk mencari uang dan kurang
menyibukkan diri dengan latihan-latihan tradisional yang sebelumnya menyumbang
didikan generasi muda.” Perubahan kemasyarakatan yang cepat, yang berasal dari
modernisasi dan urbanisasi membuat stress para murid. UNESCO (2009) menyatakan
bahwa migrasi dan urbanisasi menyebabkan perasaan terisolasi diantara pemuda
yang telah kehilangan jaringan sosial tradisional keluarga. Peningkatan
perceraian dan jumlah keluarga dengan orang tua tunggal diseluruh dunia juga
menjadi salah satu faktor yang membuat stress para murid (Yuk Yee and Brennan 2004).
Gora et al. (1992:13) menyatakan bahwa peningkatan dalam “perbedaan
masalah-masalah murid dan situasi ekonomi saat ini telah membuat kebutuhan akan
pelayanan-pelayanan konseling lebih genting daripada dimasa lalu.” Mapfumo
(2001) menambahkan bahwa murid-murid mengalami tekanan psikologis yang sangat
besar dengan keadaan dunia saat-saat ini, sementara UNESCO (2002) berpendapat
bahwa pandemik HIV/AIDS telah membuat jutaan murid menjadi yatim piatu dengan
masa depan yang tidak pasti. Keyatiman ternyata menyebabkan kemiskinan (Tladi
2006). Oleh sebab itu, selain masalah-masalah pendidikan seperti kegagalan naik
kelas dan dikeluarkan dari sekolah, murid-murid menghadapi banyak masalah
psiko-sosial, kejuruan, dan pribadi-sosial (Eyo et al. 2010). Dengan kata lain,
pertumbuhan masalah sosial, ekonomi, dan keluarga menyebabkan kebutuhan akan
pelayanan-pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah, yang sekarang disebut
sebagai pelayanan SGC (School Guidance and Counselling). Sebagai contoh, Paisley
(2001) meminta pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah disusun ulang sehingga
mereka bisa lebih mau mendengarkan permasalahan sosial, ekonomi yang ada, dan
realitas politik dalam masyarakat saat ini yang sangat rumit dan beragam.
Anwana (1984) dan Abiri (1996) yang
disebutkan oleh Eyo et al. (2010), memperdebatkan bahwa masyarakat bukanlah
tanda peringatan oleh sebuah kelompok dari individu-individu yang tidak puas,
frustasi, dan tidak dapat menerima kenyataan, jika pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah disediakan. Sebelum kemerdekaan di tahun 1980, Zimbabwe
tidak memiliki struktur pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah
bagi anak-anak Afrika di Rhodesia (Masvaure di sebutkan oleh Urombo 1999).
Pelayanan- pelayanan tersebut hanya tersedia untuk orang kulit putih, India,
dan sekolah-sekolah untuk kulit berwarna. Perkembangan pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah di Zimbabwe pelayanan-pelayanan bimbingan dan
konseling sekolah mencerminkan pemisahan ras yang sama di seluruh sistem sosial
di Rhodesia. Mapfumo (2001) berpendapat bahwa satu-satunya pelayanan bimbingan
dan konseling sekolah untuk warga kulit hitam diadakan oleh para misionaris di
sekolah khusus misionaris dan para anggota “semangat untuk publik” yang
bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan, untuk menyediakan nasehat
kepada murid.
Perluasan besar-besaran dalam pendidikan
sekolah menengah segera setelah tahun 1980 di Zimbabwe mewajibkan pengenalan pelayanan-pelayanan
Bimbingan dan Konseling Sekolah sebagai pelayanan yang mendukung untuk murid.
Ndanga’s (1994), melihat bahwa suatu peningkatan dalam kesadaran dalam jarak
perbedaan-perbedaan individu dalam kecerdasan, ketertarikan, motivasi dan
kebutuhan sebagai suatu hasil dari perluasan dalam pendidikan Zimbabwe yang
memberikan hasil dalam pengenalan dari pelayanan-pelayanan bimbingan dan
konseling sekolah, dibagikan oleh Yuk Yee and Brennan (2004) dengan
memperhatikan pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah di Hong Kong.
Pendirian Sekolah Pelayanan Psikologis (SPS) dibawah naungan Kementrian
Pendidikan, Olahraga, dan Budaya Zimbabwe pada tahun 1983 menyediakan program
partai yang merespon berbagai kebutuhan perseorangan, pendidikan, dan karir
disekolah. Seperti di Inggris (Taylor 1971), Botswana (Navin 1989), Zambia
(UNESCO 1998) and America (Paisey and McMahon 2001), pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling dikenalkan di semua sekolah menengah di Zimbabwe dalam
untuk merespon berbagai kebutuhan murid, yang meliputi akademis, karir, sosial,
dan pribadi.
Beberapa penelitian telah
dilaksanakan dalam taraf internasional untuk manfaat memperhatikan
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah. Keuntungan tersebut
meliputi meningkatkan prestasi siswa, menurunkan rasio murid yang keluar dari
sekolah, mempersiapkan murid mengahadapi dunia dalam pekerjaan dan hidup,
menciptakan suatu lingkungan sekolah yang aman (Okey et al.1993; Lapan et al.
1997; Otwell and Mullis 1997; Maluwa-Banda 1998; Hartman 1999; Lapan 2001;
Lapan et al. 2003; Lonborg and Bowen 2004). Menurut sepengetahuan peneliti, tidak
ada penelitian Zimbabwe yang diimplementasikan dalam skala besar yang keuntungannya
dipersepsikan oleh pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah sejak permulaanya
di tahun 1987. Sebagai contoh, Badza (2005) melihat persepsi para murid dan
pengajar tentang kemanjuran bimbingan dan konseling di sekolah menengah di
distrik sebelah utara Mwenezi, Chivonivoni (2006) menyelidiki keresmian
bimbingan dan konseling sekolah di Utara Chiredzi, dan Maturure (2004) melihat
berbagai masalah yang dihadapi oleh para konselor sekolah dalam melaksanakan
program bimbingan dan konseling di distrik Masvingo.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
ditujukan untuk membangun persepsi manfaat terhadap pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah di Zimbabwe oleh para murid dan konselor
sekolah. Secara khusus, penelitian ini memberikan pertanyaan seperti: Apa yang
para murid dan konselor sekolah persepsikan tentang pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah di sekolah menengah di Zimbabwe? Seperti yang
telah disebutkan di abstrak, penelitian ini adalah suatu bagian dari penelitian
yang lebih besar dalam penilaian keefektivan pelayanan-pelayanan bimbingan dan
konseling sekolah di sekolah menengah di Zimbabwe (Chireshe 2006).
Metode
Pola
Pola pengukuran, yang kebanyakan adalah kuantitatif,
digunakan dalam penelitian ini. Pola
pengukuran biasanya cocok dimana para peneliti mencari pendapat dari para
peserta (David and Sutton 2004) dengan tujuan untuk menggambarkan sifat alami
dari fenomena yang ada (Cohen et al. 2000). Penelitian saat ini bertujuan untuk
membangun persepsi manfaat terhadap pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling
sehingga peneliti bisa melihat kecocokan dari pola yang ada.
Contoh
Contoh terdiri dari terdiri dari 314 konselor sekolah
(165 laki-laki dan 149 perempuan) dan 636 murid sekolah menengah (314 anak
laki-laki dan 322 anak perempuan), yang di ambil dari 93 sekolah menengah.
Sampel ini diambil dari tiga provinsi pendidikan yang jaraknya berdekatan
(Manicaland, Masvingo and Midlands) yang lokasinya dekat dengan peneliti. Dalam
penarikan contoh dengan jarak yang dekat, para peserta dipilih berdasarkan pada
kemudahan ketersediaan atau akses (David and Sutton 2004; McMillan and Schumacher
2006). Sekolah-sekolah secara acak diseleksi dari tiga provinsi yang berdekatan
tersebut. Para konselor sekolah dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak
berpartisipasi didalam penelitian sementara para murid secara sistematis dibuat
sebagai contoh dari lapisan jenis kelamin.
Alat
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang terdiri dari
soal-soal yang tertutup. Kuisioner normalnya digunakan dalam pola pengukuran
(Cohen et al. 2000). Ada kuisioner untuk konselor sekolah dan ada juga yang
untuk murid. Tingkat keyakinan/ kepercayaan terhadap instrumen ini dibangun
melalui proses tes yang di ulang dengan 10 konselor sekolah dan 15 murid. Hasil
dari tes yang diulang menunjukkan suatu hubungan Pearson yaitu 0.85 untuk
kuisioner konselor sekolah dan 0.89 untuk kuisioner murid, yang mencerminkan
bahwa kuisioner tersebut dapat dipercaya.
Koleksi Data
Peneliti mengirimkan kuisioner
kepada konselor sekolah ke sekolah dimana konselor bekerja, yang jaraknya tidak
berada didalam jangkauan peneliti, dan peneliti akan memberikan kuisioner ke
konselor sekolah secara personal yang berada dalam jangkauan jarak peneliti. Peneliti
mengunjungi sekolah yang telah dipilih secara acak, untuk membuat contoh murid,
untuk secara personal memberikan kuisioner kepada mereka.
Etika Penelitian
Izin untuk mengadakan penelitian
dikabulkan oleh Kementrian Pendidikan, Olahraga, dan Kebudayaan. Persetujuan
lisan didapatkan dari orang tua atau wali resmi murid. Para peserta diminta
untuk tidak menuliskan nama mereka didalam kuisioner untuk menjaga kerahasiaan
dan keaadaan tanpa nama.
Hasil
Tes Chi-square yang telah dihitung baik untuk konselor
sekolah dan murid di Tabel 1 memperlihatkan bahwa ada perbedaan-perbedaan
signifikan dalam persepsi dari level pencapaian manfaat dari konselor sekolah
dan murid. Tabel 1 menunjukkan bahwa pencapaian akademik dan lingkungan sekolah
yang aman sebagai manfaat pada pokoknya dilihat dengan lebih negatif baik oleh
konselor sekolah dan murid. Reaksi positif dimiliki oleh respons konselor
sekolah berdasarkan pada rasio dari bermacam-macam manfaat adalah manfaat
tentang sikap yang positif. Manfaat lain yang dinilai tinggi termasuk kebiasaan
belajar, citra diri yang baik, kekhawatiran yang berkurang, dan penggunaan
waktu yang efisien.
Reaksi yang lebih positif dalam respon murid dalam
rasio manfaat yang berbeda adalah sikap yang positif, penjelasan tentang karir
dan sikap kelas yang membaik. Hal lain yang dianggap secara positif bermanfaat
oleh para murid termasuk: kebiasaan belajar yang membaik, penggunaan waktu yang
efisien, kekhawatiran yang berkurang, aplikasi pekerjaan dan pengetahuan diri. Satu
dari manfaat yang dirasakan baik oleh murid dan konselor sekolah adalah
kesadaran akan epidemic HIV/AIDS, yang mereka dapat dari pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling.
Tes Chi-square untuk usia murid dalam Tabel 2 mengungkapkan
bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam penilaian terhadap
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling diantara kelompok yang berbeda
usia. Tes Chi-Square untuk jenis murid menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam penilaiaan pelayanan-pelayanan diantara bentuk-bentuk yang
berbeda. Tabel tersebut juga mengungkapkan bahwa murid dalam bentang usia 12
sampai 14, 15 sampai 17 melihat pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling
sekolah dengan lebih positif daripada murid dengan bentang usia 18 sampai 20. Perbandingan-perbandingan
tersebut juga menandakan bahwa murid-murid dari bentuk 4 sampai 6 melihat
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah secara lebih negatif
daripada dari yang bentuk 2 sampai 3.
Tes Chi-square yang dihitung untuk usia. Menyatakan bahwa ada perbedaan yang
signifikan dalam penilaian pelayanan antara konselor sekolah. Tes Chi-square
yang telah dihitung untuk pengalaman sebagai
seorang konselor menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang perbedaan yang signifikan
dalam penilaian pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah diantara
konselor-konselor sekolah dengan suatu durasi yang dalam pengalaman konseling.
Tes Chi-square yang telah terkomputerisasi untuk pengalaman mengajar
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam penilaian pelayanan
antara para konselor sekolah.
Rasio dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa para konselor
sekolah dalam rentang usia 20 sampai 25 tahun pada pokoknya menilai pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah secara lebih negatif. Penilaian yang lebih
positif didapat dari konselor sekolah dengan rentang usia antara 26 sampai 30
tahun dan 31 sampai 35 tahun. Rasio untuk pengalaman sebagai seorang konselor
menyatakan bahwa para konselor sekolah dengan lebih dari 15 tahun pengalaman
menilai secara negatif pelayanan-pelayanan yang ada. Konselor-konselor sekolah
yang telah bekerja selama 11 sampai 15 tahun memiliki rasa penghargaan yang
paling tinggi terhadap pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah.
Para konselor sekolah dengan lebih dari 15 tahun pengalaman dalam mengajar menilai
dengan rendah pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling. Tabel 3 juga
menunjukkan bahwa penilaian yang lebih positif dari respon konselor sekolah
dalam bentuk rasio adalah para konselor dengan pengalaman mengajar 6 sampai 10
tahun.
Diskusi
Dari penelitian ini, telah muncul fakta bahwa para
murid dan konselor sekolah sangat banyak menerima manfaat dari
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah di sekolah mereka. Manfaat
dari segi personal dan sosial, yang berhubungan dengan pendidikan, karir, dan
kejuruan telah didapat. penemuan ini menegaskan bahwa penemuan-penemuan
penelitian tentang orang Zimbabwe yang terdahulu oleh Badza (2005), Mudhumani
(2005), Mukamwi
(2005) and
Chivonivoni (2006) dalam manfaat personal sosial, Mudhumani (2005) dalam
manfaat yang berhubungan dengan pendidikan, Badza (2005) dalam manfaat karir
dan kejuruan.
Penelitian diatas menyatakan bahwa pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah yang diterima oleh murid memberikan hasil
dalam: penurunan tingkat kasus disiplin yang buruk diantara para pelajar;
kurangnya angka putus sekolah; pemberian ketrampilan hidup, sikap dan nilai
kepada murid, yang membuat mereka mampu untuk mengatasi masalah dan membuat
keputusan yang bijaksana; membantu murid menyampaikan masalah yang mereka alami
seperti masalah sosial, psikologis, dan emosional, dan membantu murid untuk
menjadi lebih memikirkan tentang pilihan karir mereka. Penemuan diatas juga
direfleksikan dalam kepustakaan internasional yang berhubungan dengan
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah di Afrika Selatan (Euvrard
1996), Malawi (Maluwa-Banda 1998), Uganda (Chireshe 2008), America (Lapan et
al. 1997; Carnevale and Desrochers 2003; Lapan and
Kosciulek 2003; Lapan
et al. 2003; Lonborg and Bowen 2004; Rowley et al. 2005), Scotland (Besley
2002), and Canada (Hartman 1999) dimana manfaat diatas telah dialami. Meskipun
begitu, baik konselor sekolah dan murid tidak menilai secara tinggi pencapaian
akademik dibanding dengan manfaat-manfaat yang lain. Ini mungkin akan sulit
untuk menghubungkan pencapaian akademik dan pelayanan konseling yang diterima.
Pengaruh dari manfaat yang didapat mungkin dapat ditingkatkan
jika: pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah ditawarkan oleh para
konselor sekolah yang diberi pelatihan, sumber-sumber yang tersedia, suatu
kebijakan yang diperintahkan dan para kepala sekolah melihatnya sebagai sesuatu
yang positif. Chireshe (2006) memperlihatkan bahwa pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah secara buruk dipengaruhi oleh kurangnya
pelatihan bagi konselor sekolah, kurangnya sumber materi dan ketidaktersediaan
kebijakan yang mengikat. Pelayanan-pelayanan tersebut juga secara negatif
dipengaruhi oleh sikap negatif dari kepala sekolah Kasayira et al. 2004;
Chireshe and Mapfumo 2005; Chivonivoni 2006).
Penelitian ini juga menyatakan bahwa para konselor
sekolah melihat sikap yang positif pada hakekatnya secara lebih positif
dibandingkan dengan manfaat-manfaat yang lain. Ini dapat disimpulkan bahwa para
konselor sekolah menerima pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah
sebagai sesuatu yang ditujukan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan sekolah
yang lancar. Jadi, banyak kegiatan sekolah seperti belajar hanya akan dapat
terjadi secara maksimal jika para murid dapat bersikap dengan baik.
Hal yang juga muncul dalam penelitian adalah
pengetahuan tentang HIV/AIDS merupakan satu diantara sekian manfaat yang
didapat dari pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah. Hal ini
secara tidak langsung, para konselor sekolah menyediakan informasi tentang
HIV/AIDS selama pembahasan bimbingan dan konseling. Harapannya adalah agar
murid dapat mengambil sikap dan perbuatan yang baik terhadap HIV/AIDS sebagai
suatu hasil dari informasi yang mereka terima melalui bimbingan dan konseling.
Penelitian ini mengungkapkan fakta bahwa
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah dinilai baik. Penelitian
ini menyatakan bahwa jenis kelamin, bentuk murid, dan tipe sekolah tempat murid
belajar secara signifikan mempengaruhi penilaian murid terhadap
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah. Penelitian ini juga
menampakkan bahwa jenis kelamin, usia, dan pengalaman mengajar dari para
konselor sekolah, dan jenis sekolah tempat konselor sekolah bekerja secara
signifikan mempengaruhi pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah.
Para murid dan konselor sekolah wanita melihat pelayanan-pelayanan tersebut
secara lebih positif daripada responden laki-laki. Para konselor sekolah dari
sekolah-sekolah asrama didaerah pinggiran, para konselor sekolah dengan rentang
waktu antara 26 sampai 30 tahun dan 31 sampai 35 tahun, pengalaman konseling
selama 1 sampai 5 tahun dan pengalaman mengajar selama 1 sampai 5 tahun , 6
sampai 10 tahun, dan 11 sampai 15 tahun melihat pelayanan-pelayanan tersebut
secara lebih positif dibandingkan responden dari kategori yang lain. Para murid
dari sekolah asrama menengah di daerah pinggiran juga melihat
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah secara lebih positif
dibandingkan dengan murid dari sekolah lain. Para murid dari bentuk 4 dan 6
melihat pelayanan-pelayanan tersebut secara lebih negatif dari murid dari
bentuk lain. Penemuan terhadap sekolah menengah yang berada di pinggiran
melihat pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah secara lebih
positif dapat dihubungkan dengan Mapfumo’s (1999) pengamatan bahwa
sekolah-sekolah tersebut secara lebih baik diberi sumber dan memiliki fungsi
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah.
Para murid perempuan dan konselor sekolah telah
menilai pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah secara lebih baik
dikarenakan kesadaran orientasi jenis kelamin saat ini terhadap
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah. Lebih banyaknya murid
perempuan daripada murid laki-laki yang menilai pelayanan-pelayanan tersebut
secara lebih positif, karena mungkin para murid perempuan lebih diterima secara
sosial lebih kompeten dan baik oleh sekolah daripada para murid laki-laki
(Mpofu et al. 2004). Karakter-karakter seperti ini mungkin telah mempengaruhi
para murid perempuan untuk lebih positif dalam persepsi mereka terhadap
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah. Pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah yang ditawarkan di sekolah menengah mungkin
telah menekankan pada penyesuaian sosial, oleh sebab itu hal ini lebih diterima
oleh para murid perempuan. Lebih banyak murid laki-laki daripada murid wanita
yang telah menilai pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah secara
lebih negatif karena mereka secara normal bersosialisasi untuk menjadi kuat dan
dapat mengatasi masalah mereka sendiri sehingga mereka sering tidak menemui
konselor sekolah (Van Der Riet and Knoetze 2004). Dengan demikian, ini tidak
memungkinkan bagi para murid laki-laki untuk menilai secara tinggi
pelayanan-pelayanan tersebut dimana mereka tidak secara sering gunakan. Para
konselor sekolah dan murid dari sekolah menengah asrama di daerah pinggiran
telah melihat pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah pada pokoknya
secara positif karena pelayanan-pelayanan di sekolah-sekolah tersebut dilakukan
secara serius. Kebanyakan dari sekolah-sekolah menengah didaerah pinggiran di
Zimbabwe menanamkan prinsip bahwa moralitas adalah salah satu dari perhatian
mereka, oleh sebab itu terdapat keseriusan dalam menanamkan pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah di sekolah-sekolah tersebut. Para murid dari
bentuk 4 dan 6 telah melihat pelayanan-pelayanan tersebut dengan lebih negatif
karena fokus dari mata pelajaran yang dapat diawasi, yang dapat diberikan oleh
kelompok-kelompok tersebut. Pada level tersebut, para konselor sekolah yang
biasanya menjadi pengajar mata pelajaran penuh waktu mungkin tidak memiliki
waktu untuk berkonsentrasi pada pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling
sekolah tetapi lebih pada mata pelajaran yang diawasi.
Kesimpulan
Penelitian sekarang ini memberikan fakta bahwa para
konselor sekolah dan murid Zimbabwe percaya bahwa pelayanan-pelayanan yang
memberikan hasil dalam manfaat personal-sosial, karir, dan kejuruan. Secara
keseluruhan, baik konselor sekolah dan murid menilai pelayanan-pelayanan
bimbingan dan konseling sekolah secara baik. Meskipun begitu, baik konselor
sekolah dan murid tidak menerima manfaat dalam pencapaian akademik secara
tinggi.
Rekomendasi
Berdasarkan pada manfaat-manfaat yang diterima dari
pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling sekolah dalam penelitian ini,
direkomendasikan bahwa kebijakan yang diharuskan ditempatkan di posisi yang pas
terhadap semua sekolah untuk menyediakan pelayanan. Penelitian lebih lanjut
dalam area ini dibutuhkan dalam skala yang lebih besar dalam negara ini.
Penelitian ini harus memasukkan aspek bagaiman para konselor sekolah dan murid
akan membutuhkan pelayanan-pelayanan untuk berkembang dengan lebih baik. Penilaian
administrator sekolah juga bisa dipertimbangkan untuk penelitian dimasa
mendatang.
Diterjemahkan oleh: Sarita Larasati
Diambil dari: http://www.krepublishers.com/02-Journals/JSS/JSS-29-0-000-11-Web/JSS-29-2-000-11-Abst-Pdf/JSS-29-2-101-11-1236-Chireshe-R/JSS-29-2-101-11-1236-Chireshe-R-Tt.pdf. Tanggal 18 Februari 2012
Penilaian Terhadap Penelitian
Ide tentang penelitian
terhadap pendapat para siswa sekolah menengah (SMP dan SMA) dan para konselor
di Zimbabwe terhadap Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah menurut saya
cukup bagus. Hal ini akan sangat membantu para konselor melihat apakah Pelayanan-Pelayanan
Bimbingan dan Konseling Sekolah akan membantu para siswa dan konselor atau
tidak. Dengan kata lain, apakah Pelayanan-Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Sekolah memberikan manfaat atau malah merugikan disebabkan oleh berbagai
faktor. Ternyata penelitian ini memberikan hasil yang cukup baik karena secara
keseluruhan, para murid dan para konselor di sekolah menengah menilai bahwa
Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah yang ada disekolah membantu mereka dalam menghadapi tantangan
yang ada didalam maupun diluar sekolah.
Penilaian positif saya
terhadap penelitian ini adalah bahwa subyek penelitian ini tidak hanya sekolah
yang ada di pusat atau sekitar kota, namun juga sekolah yang ada didaerah
pinggiran. Sebagai hasil, penelitian akan lebih merata dan penelitian akan lebih dipercaya. Dalam
hal jumlah murid dan konselor pun, penelitian ini juga memiliki nilai tambah.
Peneliti menggunakan 950 peserta
dalam penelitiannya. Semakin banyak subyek yang menyatakan pendapat,
semakin meyakinkan suatu penelitian. Selain itu, saya juga melihat hasil dari
penelitian yang membahas tentang HIV/AIDS. Memang kita ketahui, Zimbabwe adalah
salah satu negara di Afrika Selatan yang cukup memiliki masalah dengan
peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS. Melalui Pelayanan Bimbingan dan
Konseling Sekolah yang dilakukan di Sekolah Menengah di negara tersebut, para
siswa dapat dengan mudah menerima informasi dan mengerti tentang penyakit
mematikan yang disebabkan oleh virus tersebut. Ini akan memberikan pengetahuan
yang sangat berharga untuk siswa agar dimasa depan mereka tidak akan melakukan
hal-hal yang menyebabkan penyakit AIDS/HIV.
Meskipun penelitian ini
menurut saya sudah baik, namun ada ada beberapa hal yang menurut saya masih
kurang. Menurut saya, akan lebih baik lagi jika para orang tua juga dilibatkan
dalam pemberian pendapat tentang Pelayanan-Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Sekolah karena pendapat mereka juga bisa dijadikan bahan pemikiran untuk
penilaian ini, jadi tidak hanya dari
para murid dan konselor. Bagi saya, sikap anak di rumah mempengaruhi sikap anak
disekolah. Kenyamanan dan pendidikan anak di sekolah juga akan berpengaruh juga
dengan perilaku di rumah, termasuk di masyarakat. Dalam hal ini orang tualah
yang bisa memberikan penilaian. Salah satu contoh, jika murid mendapatkan
penjelasan dan akhirnya menegerto tentang pandemik HIV/AIDS (mengapa terjadi
penyakit ini, akibat fatal dari penyakit ini, dan bagaimana cara mencegahnya), besar
kemungkinan mereka tidak akan melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya
penyakit tersebut didalam tubuh mereka. Dengan kata lain mereka akan lebih
berhati-hati dalam bersikap untuk menjaga diri mereka dan bergaul didalam
masyarakat. Hal itu tentu akan sangat membantu orang tua dalam mendidik
anak-anak mereka, yang akhirnya orang tua dapat menilai bahwa
Pelayanan-Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah sangat membantu mereka
dalam mendidik anak.
Menurut hemat saya, saya
setuju dengan pendapat para murid dan konselor bahwa Pelayanan Bimbingan dan
Konseling Sekolah memberikan manfaat bagi mereka untuk menghadapi tantangan dalam
berbagai aspek kehidupan yang terjadi disekolah maupun diluar, dan yang
sekarang maupun dimasa mendatang. Dan juga saya berpendapat bahwa perlu
diadakan penelitian serupa bagi negara lain agar dapat menjadi bahan
perbandingan bagi Pelayanan Bimbingan dan Konseling yang ada di Sekolah Menengah.
penelitian tersebut sangat menarik,mungkin perlu dilakukan penelitian di Indonesia tentang persepsi siswa sekolah menengah terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, apakah hasilnya juga hampir sama?
BalasHapusSaya juga berharap ada penelitian yang sama dilakukan di Indonesia.
BalasHapuswaw...menambah pengetahuan saya mengenai jurnal....
BalasHapusuntuk yang berbahas inggris linknya apa ea
BalasHapus